6 Things That Bring My Childhood Memories


Sebenarnya banyak episode yang ingin saya bagikan jika berbicara tentang masa kecil. Sedangkan menurut saya pribadi, kenangan masa kecil itu saat saya masih balita hingga sekolah dasar. Kalau kata mama, saya pernah mainin air dispenser sampai tumpah tumpah waktu kejadian 1998, atau hampir menyolder telinga om saya sendiri karena penasaran dengan solder. Saya tidak ingat, tapi beberapa item berikut mengingatkan saya dengan beberapa episode waktu saya kecil, diantaranya:


1. Tamagochi
Waktu saya punya mainan ini, saya ingat beli di om saya yang memang punya usaha toko mainan waktu itu. Sebelumnya, saya memiliki tamagochi berbentuk telur seperti teman-teman lainnya sebelum membeli yang baru dan berbentuk karakter hello kitty dengan dress warna biru dan pita rambutnya yang berwarna pink. Peliharaan virtual berdimensi 2D memang lagi booming waktu itu, kalau tidak salah waktu saya duduk di bangku sekolah dasar. Sebenarnya saya tidak terlalu ingat bagaimana memainkannya selain memberi makan dan menidurkannya. Kadang kalau sudah tidur dan dia tidak ingin dibangunkan, akan saya reset ulang. Such a pleasure memory to have karena design karakternya yang girly (walaupun hello kitty) and it's one of my favorite childhood toy.

2. Petualangan sherina
Wanita usia 20-an pasti hafal banget dialog-dialog film ini, termasuk saya. Petualangan sherina adalah salah satu film terbaik yang paling memorable waktu saya kecil. Tak nonton di bioskop, bapak dan mama membelikannya langsung untuk hiburan di rumah (Bapak dan Mama saya adalah pedagang kaset dan cd di tahun 90an). Pas saya punya vcd film-nya, mungkin hampir tiap hari saya putar setelah pulang sekolah. Yang paling lucu adalah ketika saya bermain dengan teman-teman di rumah, kita bermain ala film tersebut, saya bahkan punya tas pikachu berisi tali dan bekal permen coklat seperti sherina. Ah, jangan lupakan hansaplast karakter milik sherina yang digunakan sebagai petunjuk oleh ayahnya.

3. Meteor Garden
Saya dulu suka banget nonton tv, jauh sebelum kenal film dan bioskop. Nah, meteor garden versi Taiwan kan pernah tayang di Indonesia sekitar tahun 2000an, dan saya salah satu penontonnya. Saya bahkan mengoleksi poster-posternya dan saya tempel di tembok. Mungkin itu adalah awal mula kecintaan saya terhadap film dan series Asia.

4. Abacus
Mungkin ini terdengar aneh, tapi salah satu item favorit saya waktu masih kecil adalah sempoa. I still have it until today karena saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak merusaknya. Karena saya tahu banget waktu les sempoa dulu banyak sempoa teman saya rusak, biji sempoanya bertebaran ke seluruh kelas. Dulu saya itu pernah les sempoa selama 2 tahun. Untuk bisa mendapat setifikat aritmatika, saya harus menyelesaikan 10 level buku latihan dan ujiannya. Sayang pas sudah level 9 saya berhenti les karena bentrok sama jadwal sekolah. Sebenarnya saya cukup telat untuk mulai les sempoa, saya baru mulai les dari kelas 5 SD. Tapi saya merasa menghitung dengan sempoa ini menyenangkan. Walaupun banyak teman yang lebih muda, ada beberapa yang seumuran dengan saya. Biasanya teman-teman seumuran dan se-level dengan saya test mental bareng bareng. Test mental ini bertujuan untuk melatih kita berhitung cepat tanpa menggunakan sempoa. Menurut saya, test mental itu seru banget apalagi kalau saya ternyata adalah orang pertama yang menyelesaikan soal tersebut. Waktu itu saya ambisius banget, jadwal les sempoa 1 sesi itu 1,5 jam. Tapi saya langsung masuk 2 sesi dan untungnya diijinkan sama Bu Riry, pemilik tempat kursus sempoa saya. Katanya yang penting jangan lupa sholat ashar-nya. Beh gimana nggak makin betah saya belajar sempoa. Sekarang? Alhamdulilah cukup kepakai berkat latihan test mental tersebut.

5. Rainy
Ada dua hal yang membuat saya punya love-hate relationship dengan hujan. Pertama, waktu kecil saya senang sekali main hujan-hujanan, untungnya saya selalu diijinkan untuk main hujan-hujanan asalkan sudah nyiapin handuk dekat pintu supaya lantai rumah nggak becek. Dulu saya sering banget main hujan-hujanan sama teman-teman seumuran di komplek rumah. Sekarang? Kalau nyapa pas lebaran doang, lucu nggak? Kedua, waktu itu saya pulang sekolah, hujan deras, akhirnya saya putuskan untuk naik becak karena dari turun angkot ke rumah itu jaraknya bisa 100 meter lebih. Sesampainya di depan rumah, baru ingat dong saya nggak bawa kunci rumah. Akhirnya saya tetap hujan-hujanan ke rumah saudara saya. Ujung-ujung tetap basah kuyup dong. Tapi sampai sekarang, saya masih menyukai musim hujan daripada musim-musim lainnya.

6. Nokia 3310
Ah, I thinks it's the only bad thing that I remember during my childhood. Kejadiannya waktu kelas 4 SD. Waktu itu Nokia 3310 adalah handphone bapak. Saya bawa waktu itu ke sekolah, soalnya saya kan selalu diantar jemput mama, dan waktu itu saya beralasan biar gampang nelpon mama seandainya saya sudah selesai belajarnya. Hari itu juga pertama kalinya saya bawa handphone ke sekolah, walaupun membawa handphone itu dilarang (itu sekitar tahun 2004 jadi bisa kalian bayangkan ya anak SD bawa handphone tuh bahaya). Saya pun bilang ke teman sebangku saya, yang ini kaya niat mau pamer deh (jangan ditiru ya). Dia pegang dong, eh wali kelas saya masuk. Habis itu? Handphone nya saya masukin lagi dong ke tas. Pas jam istirahat, saya baru sadar kalau ternyata teman saya malah matiin handphone saya. Saya? Panik lah! Karena saya tahu untuk bisa nyalain si handphone, saya butuh pin. Masalahnya, saya nggak tahu pin-nya. 1 kali, nggak bisa, 2 kali, nggak bisa, 3 kali? Gagal juga. Akhirnya diminta nomor PUK. Saya? Nangis lah.

No comments