Social Media

Menjadi Dewasa

cr: Photo by Nikita Kachanovsky on Unsplash

Untuk teman-teman yang sedang, akan, atau bahkan sudah melalui kata ini. Hang in there! We get through this, right? Menjadi dewasa adalah seutas cuitan belaka yang ingin saya pikirkan malam ini, dikala kebingungan akan sebuah status dan pemikiran seseorang saat mendapat nilai "dewasa". Kamu termasuk tidak?


Sebenarnya ingin memotivasi diri sendiri supaya bisa melewati malam ini dengan tidur nyenyak.

Menjadi dewasa.

Katanya ribet, kadang mudah, kalau punya banyak uang. Ada aja yang bisa jadi topik untuk bisa disebut "menjadi dewasa". Tapi satu hal yang selalu saya ingat adalah

Adulting is hard

Emang sesusah apa sih?

Sesusah ujian masuk perguruan tinggi?

Sesusah bikin skripsi?

Sesusah mencari pekerjaan karena status fresh graduate?

Sesusah mempersiapkan pernikahan?

Sesusah mengurus anak?

Sesusah debat capres yang nggak ketemu point pentingnya?

Kalau menurut saya, dewasa itu rumit. Complicated kaya hubungan aku dan dia.

Karena setiba-tiba itu memikirkan kata "dewasa" sampai mikir untuk nulis ini. Terima kasih untuk segelas cappucino instan yang baru selesai saya minum. Jadi mikir sendiri.

Kalau menurut kalian dewasa itu apa?


Dewasa melambangkan segala organisme yang telah matang yang lazimnya merujuk pada manusia yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita. - Wikipedia
Dewasa, 1. Sampai umur, akil balig (bukan kanak-kanak atau remaja lagi) 2. Telah mencapai kematangan kelamin 3. matang (tentang pikiran, pandangan, dan sebagainya). - Kamus Besar Bahasa Indonesia 

Kedua pengertian diatas jauh dari ekspetasi saya. Namun bagi saya, menjadi dewasa ini berlaku untuk semua. Fisik, umur, pemikiran, sampai perilaku juga bisa dilabeli sebagai "dewasa"

Bahkan kalau di blog-blog yang saya baca, adulting ini bisa jadi kategori tersendiri. Se-complex itu.


Kembali kepada dewasa yang saya pikirkan. Ribet, nggak boleh iya atau tidak seperti jawaban anak-anak, harus bijak, harus memahami orang lain, tidak egois, harus bertanggung jawab, harus mandiri, harus mampu membuat keputusan, harus berani ambil resiko. Dan segala keharusan yang banyak itu, nggak bisa saya pikirkan.

Tapi katanya dewasa itu enak.

Mau ngapa-ngapain, bebas.

Mau bikin dosa, bebas.

Mau cari uang yang banyak, bebas.

Mau kelayapan, bebas.

Mau nonton bokep, bebas.

Ternyata, dewasa itu masalah hak dan kewajiban ya. Tapi segala pemikiran dan perilaku ini berpengaruh ke hak dan kewajiban ketika kamu diberi kata "dewasa".

It's just more than complicated before I write it down. Karena saya pun bingung ketika menjadi dewasa, tolak ukur apa yang bisa menjadikan kita menjadi dewasa. Dewasa bukan fisik yang bertambah besar dan umur yang bertambah banyak, termasuk pemikiran dan perilaku kita sebagai orang dewasa, apakah dewasa?

Again, I'm just blabbering.

*Researching inspiration*

Tulisan berikutnya setelah mendapat inspirasi dari tulisan ini

annisast.com: The Scary, Scary Adulthood

Krisis percaya diri, kalo Kak annisa bilang umur 29 dia sudah krisis PD, saya mikir, umur 21 saya sudah krisis PD. Saya bahkan lupa terakhir kali selfie di smartphone saya sendiri. Merasa inferior karena penampilan saya, dimata saya, lusuh, karena malas dandan karena buat apa juga nggak ketemu cowok ganteng. Ya ampun pikiran saya se-stuck itu saking nggak punya motivasi untuk memperbaiki diri dari segi fisik. Padahal bulan lalu baru beli alat tempur aka make-up baru.

Dari segi emosi, masalah mental, sepertinya saya jauh dari kata dewasa. Walaupun dirasa lebih baik dari jaman dulu sekolah-kuliah yang kalau belanja nggak pakai mikir, jalan sama teman tinggal jalan karena masih bisa bohong minta uang buat beli buku kuliah. Tapi tetap, saya masih dibilang galak sama teman-teman yang ketemu saya karena kalau ngomong nadanya nyinyir banget, tolong.

Padahal saya masih single, masih ngurusin diri sendiri, masih tinggal sama orang tua, masih kadang nanya pendapat orang lain dulu untuk bikin keputusan buat diri sendiri. Jauh dari kata dewasa, tapi setidaknya saya sedang belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Nangis. Orang dewasa jarang nangis. Kata siapa?

Saya pun sering nangis, nonton drama dikit nangis, nonton episode terakhir produce, nangis, nonton video kura-kura yang hidungnya kemasukan sedotan di laut, nangis, kepikiran mama atau bapak, nangis, kangen teman-teman sekolah tapi gengsi ngehubungin duluan, nangis. Please, cengeng banget kan?

Lagi, dari semua hal yang berkaitan dengan dewasa, rasanya seperti negatif karena pikirannya yang jelek, yang nggak mampu, yang ngerepotin karena banyak tanggung jawab. Padahal kalau kita lihat dari sisi postifnya, ambil yang baiknya, juga banyak.


Ini saya mikir dulu.

Terlepas dari segala kegundahan yang ada untuk menjadi dewasa. Jangan lupa untuk belajar dan menjadi bahagia, untuk diri sendiri, dan untuk orang-orang disekeliling kamu. Buat saya, dewasa dengan energi positif itu much better to face the reality. Mungkin menghadapi kenyataan tidak segampang saya menulis ini, tapi setidaknya, kita hanya perlu memulainya untuk berpikir semua akan menjadi baik.

Jadi, apapun masalah dewasa mu saat ini, yuk coba cari pilihan terbaik untuk menghadapinya.

Salam dari saya yang ingin melakukan hal yang sama.

image credit: Photo by PhotoMIX Ltd. from Pexels

Post a Comment

Instagram

Theme by BD