How I Start Minimalism Lifestyle

image credit: Photo by tu tu on Unsplash

Tulisan kali ini dimotivasi setelah mendengar sebuah podcast bertema serupa, minimalism.

Sebenarnya, gue juga yakin kalau sekarang sudah banyak orang yang menganut gaya hidup satu ini. Terlepas di Indonesia sendiri warganya sering dikaitkan dengan konsumtif. Nggak bisa dipungkiri bahwa ada sebagian kelompok yang mematahkan penilaian tersebut.

Termasuk gue, tapi gue bukan seorang minimalist, sebuah untuk orang yang memilih bergaya hidup minimalist.

Nah, kalau bisa dibilang, gue ini masih tergolong #BelajarMinimalis

For further info you can find about minimalism on instagram @lyfewithless

Throwback saat kuliah, 2013 s/d 2015. Waktu itu gue masih banget jadi anak baru besar karena harus hidup ngekos di Depok, karena ya gue kuliah disana. Hal yang cukup memorable ketika gue selalu menghabiskan uang saku gue sebelum jadwal uang saku berikutnya ditransfer sama orang tua gue. Hampir tiap hari makan diluar, seringnya di Margo City, dan segudang tugas yang mengharuskan gue ngeprint ini itu. Oh iya, lengkap patungan acara kampus atau acara-acara lain buat menambah pengalaman kepanitiaan gue.

Awal-awal semester 1, gue kalap banget nggak punya tabungan. Nggak pernah sampai nol, karena harus disisain kan. Sampai pas pergantian tahun dan menuju semester 2, gue membulatkan tekad.

Gue harus nabung buat ketemu oppa.

Jadilah kehidupan boros gue di semester lalu, berakhir. Target untuk menabung hingga 40% dari jumlah uang saku gue setiap bulan berhasil dikumpulkan. Promotor announce, and yes, I got the ticket. Nabung ini bertahan sekitar 8 bulan. Nah karena ini nabungnya niat banget, tahu apa yang terjadi? Setelah habis nonton konser, gue pun berakhir splurge sampai akhir semester 3. Selama setahun itu juga, selain nabung, gue berhasil punya beberapa album grup kesukaan gue. Alasan gue beli tentunya untuk mendukung hanteo chart grup, tapi tahu apa yang lebih memotivasi gue buat beli? Ikut-ikutan cerita teman. Disini gue juga pernah ketipu beli album, untungnya cuma 1. Tiket konser yang gue beli sectionnya lumayan depan, jadi ya harganya lumayan tinggi juga.

Terus nyesel nggak? Kalau dipikir sekali pernah, makin kesini nggak ternyata.

Kenapa? Karena dapat pengalaman tak terhingga bahwa gue ternyata pernah seimpulsif itu, walaupun nggak tahu ya nanti kedepannya bakal terulang apa nggak. Jangan sampai deh!

Comments

  1. Couldn't agree more, I always love to buy more experiences and less stuff.

    ReplyDelete
  2. Would you mind to tell me by email about how to make this simple blog? Akhir-akhir ini saya lagi pengen belajar nulis, berharap ke depannya bisa buat situs blog juga, and I do really like this blog theme and I couldn't figure out how to make it

    ReplyDelete

Post a Comment

Form for Contact Page (Do not remove)