Bermonolog


Alias ngomong sendiri, ya karena pengen aja. Dan karena dirasa kayanya kalau ditulis untuk masuk draft dulu itu nggak apa-apa, kalaupun diposting ya nggak yakin ada yang baca. Kali ini aku mau misuh-misuh aja.


Semenjak terakhir posting, atau beberapa postingan terakhir. Terlihat, dalam pandangan gue sendiri, kalau gue nulis itu kaya nggak niat aja alias kepepet karena deadline dari komunitas yang sedang gue ikuti, 1 Minggu 1 Cerita. Di satu sisi gue merasa tertekan, bukan karena deadline-nya. Tapi karena performa gue yang nggak niat itu dan mau nggak mau harus disetor. Instead, harus research dulu atau bahas apa kek yang penting.


Sama kaya tulisan gue saat ini, nggak jelas. Isinya mau keluh-kesah doang soalnya ngerasa stres aja karena minggu depan sudah bulan terakhir di tahun 2020 tapi hidup gue nggak ber-progres, alias gini-gini aja. Ngerasa gitu juga nggak sih?


Gue nggak mau menyalahkan pandemi, karena semua orang mengalaminya. Mau menyalahkan diri gue sendiri, tapi jatuhnya malah ke hate yourself instead love yourself. Mau menyalahkan orang lain, ya emang lo siapa?


In the end, gue lagi berusaha untuk memilah isi-isi yang ada di otak gue belakangan ini. Termasuk dengan melakukan social media detox yang sangat memengaruhi kesehatan mental ini. Sudah berjalan 5-6 hari dan ternyata I'M SO FINE WITHOUT IT. Ya nggak apa-apa nggak tahu kabar orang-orang. Sebelumnya sih pernah, mungkin beberapa bulan lalu juga (masih tahun ini), gue memutuskan untuk deactivate akun instagram gue. Uninstall aplikasi instagram dan twitter di handphone, tapi masih bisa buka home timeline twitter di komputer karena alasan nggak mau ketinggalan informasi tentang BTS.


Lambat laun, gue merasa energi gue kaya kesedot karena ternyata gue cukup sering scroll timeline twitter di waktu jam kerja dan pikiran saat itu semerawut hilang arah. I feel lost for a second. Kaya... gue kenapa deh.


Akhirnya pada selasa pagi gue memutuskan untuk log out twitter, uninstall aplikasi nya di gadget. Plus deactivate instagram dan uninstall aplikasinya. So far, gue masih sesekali mengecek profile twitter soal info-info entertainment korea, tapi jarang. Atau kadang ke twitter BTS itu sendiri, karena member juga sering update. Apalagi saat gue menulis ini belum lama BTS comeback dengan album baru nya. 


Ternyata, ya gue baik-baik aja, tanpa media sosial. 


Satu lagi hal yang gue pikirin ketika akhirnya memutuskan untuk nulis ini aja karena kok ya gini banget kalau dipikirin.


Soal gaya hidup. Iya, kenapa harus dipusingin? Karena gue orangnya overthinking juga. Congrats.


Jadi, gue sering banget nontonin video-video soal minimalis, awalnya soal fashion dan capsule wardrobe nya, lama-lama ke gaya hidup minimalis sampai yang menurut gue agak ekstrim untuk diikuti tapi lumayan untuk dicoba adalah zero waste. Menurut gue ketiganya saling berkaitan karena mengajarkan kita semua untuk menghindari konsumerisme karena akan meningkatkan sampah yang bakal kita buang juga. 


Awalnya happy banget, kaya diingatkan. Tapi makin kesini kok ya kaya makin pressure, dalam artian semua serba aesthetic dan visualnya menarik. Jujur, gue juga mengakui bahwa yang ditampilkan para content creator ini soal visualisasi di video. Tapi di satu sisi, apakah mereka juga menyebabkan gue minder karena nggak bisa menerapkan gaya hidup itu karena rasanya ruangan gue nggak aesthetic.


Ini pemikiran gue aja btw. 


Gue sangat menyukai hal-hal tersebut tapi kenapa gue merasa tertekan ketika harus mengikutinya? Itu kenapa? Pertanyaan yang sedari tadi gue pikirkan karena perasaan gue juga lagi kalut banget. 


Somehow setelah gue menulis, it's healing me a little bit. Kaya mungkin gue kebanyakan pikiran aja atau gimana. Media menulis gue yang biasanya gue lakukan di twitter kan sedang tidak bisa dilakukan dan rasanya gue sudah lama tidak menulis random seperti morning pages sehingga rasanya otak ingin meledak.


Tapi nggak apa-apa, mending banget ditulis disini dulu biar nggak lama-lama mengendap di otak. 


Oh iya, alasan gue juga kenapa kok nggak update-update hal-hal yang menarik dibahas karena..... gue merasa kurang riset aja ketika ingin menulis sesuatu. Gue sering banget sebenernya blogwalking ke beberapa blog lain yang menurut gue mereka punya pembahasan yang rutin sedangkan diriku stuck karena sudah lama banget tidak membiasakan diri menulis, Ini jelek banget sih kebiasaan yang sedang berusaha gue hilangkan.


One of my real problem adalah gue orangnya perfeksionis, maunya sempurna. Maunya pas nulis pun terstruktur, misal senin nulis A selasa nulis B rabu nulis C dan seterusnya. Maunya rutin tersusun dan terjadwal rapi seolah gue punya banyak waktu, padahal masalahnya apakah gue mau menyempatkan waktu buat nulis aja. Nah itu gue tau banget.


Sering banget baca tulisan di blog kak annisast atau ewafebri, tulisan mereka secara nggak langsung sangat memotivasi untuk menulis loh makanya gue sampai iri. Tapi ya itu, kejadian sesungguhnya gue juga nggak ikut menulis sampai bisa klik pilihan publish di menu kanan atas blogspot. 


Selain itu, gue banyak rencana banget nih selama 2020. Rencana doang kaya daydreamer, tapi action nya nol. Jelek banget nggak sih? Sehingga tidak terciptalah blogpost baru selama setahun? dua tahun belakangan. Jadilah gue lebih fokus untuk mengurus tulisan di masa lalu, awal-awal ngeblog. Kebanyakan sudah saya perbaharui lagi biar sesuai dengan layout baru.


Ohiya gue sering banget gonta-ganti layout theme blog, dari dulu. Jelek banget nggak sih tuh?


Maka dari itu rasanya hidup gue stuck banget nggak maju-maju ini kalau di crosscheck ternyata banyak penyebab nya. 


Setidaknya untuk saat ini gue masih berniat menulis panjang mengutarakan isi hati dan otak yang selama ini mengendap sebelum jadi penyakit karena sering banget overthinking.


Kalau misal kalian baca ini, boleh banget komentar loh. Aku mau minta saran karena sebenernya akun blogspot ku ini sudah ada sejak aku masih sekolah, tahun 2010. Hanya saja memang banyak konten yang dirubah/ diperbarui kualitasnya. Tapi di satu sisi aku sedang bertanya-tanya apakah sebaiknya aku hapus atau tidak konten-konten lama tersebut karena ku merasa sudah tidak orisinal lagi, tapi di satu sisi ingin ku anggap sebagai kenangan dan track record dari blog ku itu sendiri. Karena banyak banget foto-foto pribadi dan teman-temanku di masa lalu. Apa sebaiknya aku unpublish atau aku diamkan saja sebagai kenang-kenangan? Ini lagi dilema banget ini juga aku tuh. 


Kebiasaan jelek ku kelamaan mikir makanya lama juga nunda pekerjaan nya bayangin blogpost dulu-dulu kalau rutin juga kan nggak perlu diedit-edit lagi. Huhu, what a life.


Bahkan gue sekarang kebingungan kalau mau publish tulisan ini label nya mau gue taruh apa. OH MY GOD.


Padahal sebaiknya ya, gue harus mulai merencanakan dan nulis semuanya buat dipublish secepat nya biar makin kelihatan deh nanti label nya kaya gimana. So far, main label yang terdiri living, lifestyle, log dan love ini sudah merepresentasikan kategori yang ingin gue bahas banget sih. Tapi untuk living dan lifestyle ini emang masih kebolak balik banget.


Rencana sepanjang 2020 ini, kalau mau gue tulis biar ingat sebenarnya ingin membahas hal-hal favorit gue kaya tentang journaling dan fangirling. Keduanya masih gue lakukan walau jarang dibandingkan dengan apa yang mungkin gue bicarakan di love, mostly tentang series atau film yang rutin gue tonton. Kapan-kapan akan gue bahas aplikasi yang rutin gue gunakan selama ini untuk nge-track watchlist gue. 


Come on, ide, datanglah kalian karena sekalian juga kita brain dump biar waras lagi. AYO!


Lifestyle kayanya akan gue isi dengan gaya hidup seperti minimalis, so far.


Living fokus ke journaling dan fangirling


Log ini gantinya personal, rencananya akan dikategorikan berdasarkan daily, weekly, monthly, rencananya ya.


Terakhir Love, ini sebenarnya paling banyak ingin gue tulis karena banyak yang sudah gue tonton tapi lupa cara menulis review tuh gimana ya.


Gue sedang rindu menulis nih, beneran. 


Apa gue akan membuat label baru bernama monolog yang isinya kalau nggak misuh-misuh ya uring-uringan. Tapi mau banget gue buat rutin juga biar on track karena gue sudah nggak pernah menulis morning pages lagi di pagi hari, udah lama banget dan rasanya kaya mau meledak aja karena nggak punya tempat untuk mengutarakan nya. 


cover: Photo by Glen Carrie on Unsplash

Post a Comment

Instagram

Journal and Tea