Komitmen dan Orang Dewasa

Sengaja nulisnya di hari senin biar semangat 45 menggebu-gebu, nggak tahu kalau minggu depan. Tapi yang penting, kalau gue berhasil publish and make it the post stay until the end of the month. You did it nit. You doing good.


Lewat postingan ini, gue ingin kembali berkomitmen, yang sudah gue tunda selama 2 tahun terakhir karena gue sudah di kick 2 kali dari grup whatsapp 1M1C. Buat kalian yang nggak tahu, 1 Minggu 1 Cerita adalah komunitas blogger yang sempat gue ikuti beberapa minggu sebelum akhirnya di kick dari grup. Sistem nya seperti bermain game, dengan misi menyetorkan tulisan blog setiap minggu nya minimal 1 tulisan. As simple as that loh.


Tapi baru 4 minggu dan 2 bulan gue di kick. Emang lemah gue dari dulu tuh kalau main game. Anyway! Gue mau cerita terkait judul yang kayaknya berat banget karena sejujurnya gue sedang dalam masa..... Overthinking.


Gimana nggak, dapet kabar sepupu yang lebih muda memutuskan untuk menikah, diundang temen juga disuruh dateng ke rumah nya karena doi mau dilamar pacarnya. Atau yang lagi ngetrend pas tahun baru, bikin resolusi supaya jadi lebih baik lagi (yang mana selalu gue lakukan dan semangat di bulan pertama doang). Tapi selain komitmen soal pernikahan yang berat banget, komitmen untuk tetap hidup sampai gue ngetik ini tuh another huge deal karena kayanya mental gue sakit deh.


Iya sakit tapi masih tahap self-diagnosed gitu yang mana nggak baik terus ngawang banget karena gue nggak nggak tahu kan ini gue sakit apa. Tapi 2 minggu kemarin sakit sampai tergeletak di kasur is just another level of my history sih karena nggak pernah sakit selama itu.


Dikutip dari kbbi.web.id komitmen adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu.


Yang mana kalau dalam sehari-hari banyak diterapkan misal kaya komitmen untuk terus bekerja sampai tipes, komitmen pakai jilbab karena mau taubat, atau komitmen untuk stay fit dengan makan banyak sayur dan olahraga rutin. You can called it anything. Tapi ketika lo jadi dewasa, semua komitmen itu terasa jadi beban banget, di mata gue, dan kadang-kadang. Ada level yang gue rasa bearable tapi ada yang rasanya susah banget dijalanin. Dan sebagai manusia yang nggak akan hidup lama, proses-proses itu berjalan setiap harinya.


Kaya gue yang memutuskan untuk nulis 1 blog post setiap minggunya selama Januari sebelum daftar jadi member di 1 Minggu 1 Cerita lagi gue memanggilnya komitmen. Karena ada keterikatan untuk ngerjain nya setiap minggu.


Lol, pas gue baca lagi kok nggak terlalu nyambung sama judulnya, again. I just let it flow kaya nulis morning pages ditulisan kali ini, no backspace at all kecuali typo di katanya karena gue cuma mau bercerita apa yang dipikiran gue. Kalau kalian merasa bingung dengan tulisan ini, kindly just skip it.


Komitmen yang paling gue takutkan saat ini adalah menikah, sejujurnya. Dibalik angka 2022, disitu ada umur gue yang berubah menjadi 27. Dan angka itu adalah teror buat gue yang masih single happy dan santai tapi orang-orang di sekeliling ku tidak santai. Ada satu waktu sebenernya gue merasa kesepian, gue takut kalau gue bakal sendirian tapi tekanan bertemu orang yang belum tentu menerima kekurangan gue atau gue belum tentu menerima kekurangan nya akan datang dengan cepat dan berkomitmen untuk sehidup semati sampai akhirat (just looking at my parents case or other people’s marriage). Gue sebenernya bingung, nggak tahu harus apa. Karena diam-diam gue terbiasa dengan keseharian ini. Lalu gue jadi mellow habis ngetik ini panjang. Lol


Udah deh segitu dulu bagian overthinking nya karena sudah lama ngetik nya. So ciao!

Post a Comment

Instagram

Journal and Tea